Selasa, 29 Maret 2011.
Titik nol kilometer Yogyakarta. Titik dimana aku benar-benar merasakan sebagian kecil kehidupan di Yogyakarta. Pertemuan antara empat jalan raya besar dan menjadi titik awal ukuran wilayah Yogyakarta.Waktu itu sekitar pukul 18.30 WIB, aku membuat janji dengan teman-teman untuk bertemu dan hunting foto bersama. Aku datang duluan dengan temanku, Tia. Sambil menunggu teman-teman datang kami duduk dikursi panjang di sekitar jalan raya. Saya termenung dengan memikirkan masalah kehidupan pribadiku. Terasa begitu berat. Tak lama kemudian tiba-tiba datang dua pengamen menghampiri kearah kami, yang langsung membuyarkan pikiranku tadi. Seorang perempuan nampaknya seumuran dengan aku memakai baju seragam bola nasional yang tulisannya sudah memudar dan seorang bocah laki-laki yang memakai baju kucel dengan telanjang kaki. Sebuah gitar kecil dimainkan oleh perempuan itu dan diiringi suara bocah laki-laki yang tak jelas menyanyikan lagu apa. Genjrengan gitar yang tidak beraturan letak nada dan suara serak mereka tak begitu kami hiraukan. Namun hati nurani lah yang membawa kami untuk segera mengambil dompet masing-masing. Ku bolak-balikkan bagian dompetku berharap mendapatkan recehan dan membiarkan mereka pergi, tapi nihil. Isi dompetku hanyalah selembar uang pecahan lima puluh ribu yang baru tadi sore ku ambil di bank. Saat kucoba tanyakan pada Tia dengan mengisyaratkan tatapanku padanya, ia hanya menggeleng dan menjawab,”Cuman dua ribu”. Heeh.. sentakku. Dan tanpa ku kira kemudian si Tia tiba-tiba bertanya pada dua pengamen itu. “Kalian pada sekolah ndak?”
….“ndak Kak, kalau Aku sudah lulus, ini yang masih sekolah..” jawab perempuan tadi sambil menunjuk bocah laki-laki disampingnya dan menghentikan genjrengan gitarnya.
Kemudian si bocah laki-laki tadi menyambung, “ iya kak, Aku masih kelas tiga SMP”.
Dari situ lalu kami mempersilahkan mereka duduk disamping kami. Menjawab pertanyaan-pertanyaan penasaran kami. Ternyata mereka sangat antusias, tak ada rasa canggung sedikitpun untuk memenuhi rentetan pertanyaan kami. Mulai dari tempat tinggal, usia, orang tua, keseharian mereka, sampai untuk apa uang hasil mengamen nantinya. Dan semua di jelaskan secara detail pada kami. Mereka pun memperkenalkan namanya pada kami. Perempuan itu bernama Putri dan bocah laki-laki itu bernama Wahyu.
Mereka sangat ringan untuk bercerita seluk-beluk keseharian mereka. Dari perempuan yang bernama Putri itu saya tahu kalau dia masih punya ibu yang ditinggal menikah lagi oleh bapaknya. Dia juga tak malu untuk menceritakan cita-citanya tanpa kami tanya. “Andai saja aku bisa sekolah dan terus kuliah dulu kak aku ingin banget jadi hakim agar bisa menghukum orang-orang yang nikah lagi dan menterlantarkan istrinya”. Seolah ia ingin memberi tahu pada semua atas kejengkelan hatinya terhadap bapaknya. Sudah meninggalkan ibunya yang sampai sekarang mencari barang-barang bekas untuk menyambung hidup. Meninggalakaan mereka yang tak punya tempat tinggal dan hanya tidur beralaskan kardus di lapak pasar Sentulan setiap harinya.
Belum selesai ia bercerita tiba-tiba gadis kecil menghampiri kami. Umurnya sekitar tujuh tahun, rambutnya panjang memerah terurai tak terawat, bajunya berantakan dan kotor. Tapi aura wajahnya tetap seperti gadis-gadis kecil lain seumurannya yang menikmati masa kecilnya. Ia lalu melempar senyum pada aku dan Tia. “Siapa ini?”, tanyaku pada Putri. Kemudian secara tiba-tiba gadis kecil itu mengulurkan tangannya dan menyebutkan sebuah nama, “Erna” ucapnya dengan senyum kecilnya. Putri menimpali, “Dia anakku kak, seharusnya kelas satu, tapi udah putus sekolah”.tersentak untuk yang keberapa kali aku mendengar kalimat dia. Seolah tak percaya ku tanya lebih banyak pada Putri, apa dia benar sudah menikah? siapa bapak dari Erna? Sampai kenapa Erna putus sekolah? Ternyata ia menjawabnya sangat renyah dan sekali lagi tak menunjukkan sebuah beban disana. Dan ternyata kenyataan yang sama ia ungkapkan. Bapak dari Erna lari entah kemana meninggalkan dia yang dulu sedang mengandung bayi Erna.
Pukulan hebat seakan menghantam atas diriku. Rasa malu berdesir dalam nuraniku. Tuhan, betapa berat rasanya hidup yang harus dijalani perempuan ini. Batinku menyeruakkan simpati yang lebih jika dibandingkan kehidupanku dan masalah-masalahku selama ini. Aku malu pada diriku sendiri.
Kemudian gadis kecil tadi berucap kembali,”Kak aku ajari baca dong, aku pingin bisa baca, tapi gak mau sekolah, sekolah itu gak enak Kak, mikir terus?” dengan polosnya ia ungkapkan itu pada kami. Tersenyum ku mendengarnya dan membiarkan pikiranku mengingat akan masa dimana aku berusia seperti gadis kecil di depanku ini. Aku tumbuh di lingkungan keluarga yang lengkap, sederhana, dan selalu mendidik aku mengukir prestasi nomer satu di sekolah dasarku. Sungguh indah masa kecilku dulu.
“iya, nanti kakak ajari deh, tapi gak sekarang ya, nanti kakak pasti balik sini lagi”, ucapku padanya. Raut mukanya menjadi mengembang seolah seperti menemukan mainannya yang telah lamanya yang hilang.
Kemudian Putri dan Wahyu itu pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.begitu juga Erna yang mengekor dengan ibunya. Tia segera memberikan uang yang dirasa nominalnya cukup besar tadi dan menjadi teramat kecil nilainya jika dibanding pelajaran besar yang kami peroleh dari mereka. Tak terasa ujung mata ini mengeluarkan embun jernih melihat mereka pergi. Aku merasa teramat lemah dibandingkan mereka yang punya kekuatan lebih untuk tetap bertahan hidup meski mendapat kekecewaan dari orang-orang yang mereka cintai.
thx for u are my great friends.. :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar