Masih bingung sama logika orang menikah.
Sebagian dari mereka memilih alasan “ideal”-nya karena usia, ibadah, atau yang paling menjijikkan masalah CINTA. Aah what the freaky reasons !
Banyak orang yang mulai akan kebakaran jenggot saat usia mereka sudah “umur”.
Pernah suatu waktu seorang teman datang ke saya. Cowok bytheway. “aku capek, masak umurku uda 25 gini, mapan juga uda, kerjaan gaji gedhe, rumah pribadi juga ada. Cuma istri ini aku belum punya? Apa salah aku…” *kemudian dia lari sambil ujan-ujan, gulung-gulung ditanah, dan memukul-mukul tembok* btw itu Cuma dramatisir. Hahaha
oke back to the topic. Suer deh bingung banget saya saat itu. Bingungnya gini men secara usia saya masih dalam pubertas gitu ya *errrr* tapi uda dipaksa untuk ikut campur dalam masalah kehidupan orang (yang ngaku) dewasa dan gak laku-laku itu. PLEASE ! salah saya APA ?!! APA salah SAYA ?!!!
Yang kedua mereka mempersoalkan keyakinan. Yahh ibadah. Karena nikah itu sunnah Rosul. Jadi yaa HARUS. Trus muncul pertanyaan lagi, kalau nikah itu ibadah trus kalau nikah LAGI juga ibadah kah??? hmmm… oke mungkin banyak yang menjadikan alasan itu, dan saya juga ga menjustifikasi dong. Tapi dalam perjalanannya iman mereka tak kuat seiring bertambahnya usia mereka. Dan goda’an zaman yang semakin masya alloh..... kemudian...... selingkuhpun jadi pilihan. Atau kalau ndak yaa poligami boleh deh, tetep mengatasnamakan “IBADAH”. Kasian sekali kenapa ibadah dibuat kambing hitam nafsu mereka. Ck ck ck.
Btw soal poligami, emang sih dalam kepercayaan saya hal itu tidak dilarang. Namun, coba deh lebih berfikir terbuka lagi soal perasaan wanita. Mana ada sih wanita yang mau dimadu ? dan yang saya tahu poligami dihalalkan dalam kitab suci itu hanya teruntuk orang yang istimewa mampu bersikap adil dalam satu waktu. Dan orang teristimewa yang mampu bersikap demikian Cuma Nabi Besar Muhammad saja. That’s all. Manusia gak ada yang sempurna men, jadi kenapa musti sok-sok sempurna dengan mengandalkan kepalsuan untuk menuruti hawa nafsunya.
Dan kemudian alasan yang benar-benar menjijikkan yaitu CINTA. Benda apasih itu sebenernya? Ada yang tau gak ???
(sebut saja) abang : “Dek, abang CINTA sama adek. Pengen jadi’in adek ibu dari anak-anak abang, nikah yuuks….!”
(sebut saja) adek : “*malu-malu babi* iya bang, adek mauu”
*itulah cuplikan dialog dua orang yang saling kasmaran dan tak memperdulikan orang-orang yang tak punya pasangan disekitarnya. #apasih
Hahahaha
Eh sebentar, itu belum selesai.
@@@@ beberapa tahun kemudian @@@@
Curiga-Berantem-khilaf-try to flirt with another man/woman-kegep-minta cerai
Siklus macam apa itu. What the…….!!!!!!
Sudah banyak cerita yang mampir dalam hidup saya dari banyak orang dewasa yang sudah berkeluarga. Ratanya mereka sama saling nyesel dalam hubungan suci mereka. padahal anak mereka juga udah gede-gede. Nah kayak gitu sapa yang salah woy ! salah GuWE, salah temen GUWE !! *mulai* hahaha
*sigh* *ntah untuk keberapa kalinya*
Satu sisi saya heran sih sama sebagian orang yang cerita aib keluarganya ke saya. Tapi sisi lain saya sadar, menikah itu bukan hal yang mudah. Proses yang memang harus mengikat satu sama lain antara mereka untuk bersatu. Namun tak hanya janji mereka satu sama lain, janji mereka kepada orang yang mereka kenal, namun sakralisasi menikah yaitu janji mereka kepada Tuhan. Yaa menurut saya Janji yang udah terucap dihadapan Tuhan gak akan ada yang bisa memisahkan kecuali maut.
Dengan berfikir seperti ini bukan dalam artian saya ogah dengan kalimat ‘nikah’. Egois sekali rasanya kalau hanya menjadikan nikah sebagai tujuan hidup dan sumber kebahagiaan kelak. Hal itu gak semudah anak esempe yang mengangguk saat di ajak jadian, atau seorang gadis yang tiba-tiba berteriak saat mendapat voucher discount 99 % dari butik elit. Hehe bagi saya kelak siapaun nanti orangnya yang akan memegang buku merah sebagai pasangan buku hijau milik saya nanti dia merupakan orang yang benar-benar-benar. Yang menikah dengan tidak memakai alasan klasik tersebut walaupun mau tak mau alasan itu pasti tersirat. Namun ia datang dengan segala kerendahan hatinya untuk mengajak saya hidup bersama dan melengkapi satu sama lain dalam komitmen suci hingga maut yang memisahkan. Seorang yang memang tak mempunyai intrik ‘kemirupen’ untuk merayakan pernikahan, namun menghidupi pernikahan itu sendiri sampai akhir hayatnya.
with sincere
-erje_
03032012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar